Peran Pesantren Dalam Mengawal Pendidikan Yang Berkarakter Dan Berkualitas

Peran Pesantren  Dalam Mengawal Pendidikan Yang Berkarakter  Dan Berkualitas

Oleh: Asep Kusnadi[1]

Email: asep.mizanilmu@gmail.com

Pendahuluan

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sudah “mendarah daging” di Indonesia. Sejarah pendidikan di Indonesia mencatat, bahwa pesantren adalah bentuk lembaga pendidikan pribumi tertua di Indonesia. Bahkan Nurcholis Madjid berpendapat bahwa pesantren tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian (indigenous) Indonesia. Sebab keberadaannya mulai dikenal di bumi Nusantara pada periode abad ke 1317 M, dan di Jawa pada abad ke 15-16 M. Pendapat ini seolah mendapat justifikasi dengan tidak ditemukannya lembaga pesantren di negara-negara Islam lainnya.

Terlepas dari berbagai perbedaan asal usul pesantren, sejak didirikan pertama kali oleh Syech Maulana Malik Ibrahim pada tahun 1399 M, diteruskan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) di Kembang Kuning, pesantren mampu terus berkiprah hingga hari ini. Dari zaman kolonial Belanda, orde lama, orde baru hingga reformasi, pesantren terus eksis dan mewarnai serta memberikan sumbangsih signifikan terhadap bangsa ini. Telah begitu banyak tokoh-tokoh kaliber dunia yang muncul dari pesantren, Syekh Nawawi al-Bantenî, Syaikhona Muhammad Kholil, dan KH. Hasyim Asy’ari merupakan contoh kongkrit kapabilitas alumnus pesantren.

Pondok pesantren juga terkenal dengan kebudayaannya yang khas, baik dari pola hidup yang bersahaja dan asketik, hingga tradisi pendidikan yang berkarakter. Tradisi pesantren ini selalu dijaga dengan hati-hati, bahkan dari awal berdirinya sampai hari ini. Seiring perputaran zaman, sistem yang dulu masih menjadi sesuatu yang kontemporer, sekarang telah menjelma menjadi sesuatu yang konvensional, dari yang paling modern menjadi tradisonal dan ortodoks.

Dalam hal ini, Karel Steenbrink mengatakan bahwa hampir semua pelapor Barat selalu memberikan laporan pertama kepada pembaca yang belum pernah mengunjungi pesantren, atau mengenalnya lewat tulisan. Pada umumnya mereka memberikan gambaran dan kesan aneh dan khusus menekankan adanya perbedaan dengan sekolah-sekolah barat.

Perkembangan dan perubahan yang dilakukan pondok pesantren, sebagai bentuk konstalasi dengan dunia modern serta adaptasinya, menunjukkan kehidupan pondok pesantren tidak lagi dianggap statis dan mandeg. dinamika kehidupan pondok pesantren telah terbukti dengan keterlibatan dan partisipasi aktif memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam banyak aspek kehidupan yang senantiasa menyertainya. di antaranya, ikut serta dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui lembaga pendidikan pesantren. karena pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memiliki akar budaya yang kuat di masyarakat.

Lebih lanjut, dalam iklim kompetitif seperti sekarang ini, sulit bagi pesantren untuk hidup dengan baik jika tidak memiliki kemampuan untuk mengubah diri dengan cepat dan mampu berkembang seiring dengan berbagai tuntutan stakeholder. Kondisi ini berlaku hampir pada keseluruhan pesantren yang bersifat profit dan nonprofit. pesantren sebagai lembaga pendidikan yang termasuk lembaga nonprofit juga  tidak terlepas dari fenomena ini, itulah sebabnya dalam banyak hal pesantren harus mengetahui berbagai harapan dan kebutuhan stakeholder.

Tidak perlu disangkal, ketika banyak kalangan memandang lemah bahkan mengklaim problematika internal pondok pesantren terletak pada kepemimpinan. terlepas dari keberhasilannya selama ini, pondok pesantren diakui, mampu mendidik para santrinya menjadi manusia yang shalih, menjadi mubaligh, serta para cendekiawan yang kemudian menjadi pemimpin di tengah-tengah masyarakat, baik formal maupun informal yang kini tersebar di seluruh pelosok nusantara ini.

Zamachsari Dofier dalam buku Tardisi Pesantren (1994), secara umum kepemimpinan di pesantren kurang diperhatikan secara serius, karena pesantren sebagai lembaga tradisional, dengan wataknya yang bebas, sehingga pola pembinaannya hanya tergantung pada kehendak dan kecenderungan pimpinan saja. Padahal sesungguhnya potensi-potensi yang ada dapat diandalkan untuk membantu penyelenggaraan pondok pesantren.

Berangkat dari itu, menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji lebih intensif tentang pengelolaan yang ada di pesantren beserta faktor determinasinya, untuk menghasilkan data yang akurat, valid, dan objektif, sehingga diharapkan mampu menjawab permasalahan dengan semangat ilmiah yang bebas nilai.

Dari permasalahan tersebut, sesungguhnya pesantren telah lama memberikan solusi konkrit yang dimulai dari konsep pendidikan khas pesantren yang berasaskan karakter. Keberhasilan pesantren dalam meminimalisir degradasi moral sudah banyak ditiru oleh lembaga pendidikan negeri maupun swasta mulai dari metode pembelajaran hingga konsep pondok/ asrama seabagai sistem pembiasaaan dan pengaplikasian teoritik didalam kelas.

Pesantren dengan berbagai elemen pendidikannya adalah lembaga yang mampu mengembangkan pendidikan karakter secara lebih maksimal. Hal ini tercermin dari penanaman nilai teoritis yang didapat dari kajian kitab ke dalam bentuk praktek kesehariannya secara simultan. Kebiasaan itu dapat membentuk karakter secara alamiah itu sangat penting untuk dikaji bagaimana kontribusi pesantren dalam pendidikan karakter dan perannya membendung praktik degradari moral dalam masyarakat.

Hakikat Pesantren

Menurut pengertian dasarnya, pesan tren adalah “tempat belajar para santri”, sedang pondok berarti “rumah atau tempat sederhana yang terbuat dari bambu”. Di samping itu, pondok mungkin juga berasal dari bahasa Arab “funduk” berarti “hotel” atau “asrama”. Ada beberapa istilah yang ditemukan dan sering digunakan untuk menunjuk jenis pendidikan Islam tradisional khas Indonesia atau yang lebih terkenal dengan sebutan pesantren. Di Jawa termasuk Sunda dan Madura, umumnya dipergunakan istilah pesantren atau pondok, di Aceh dikenal dengan Istilah Dayah atau rangkung atau meunasah, sedangkan di Minangkabau disebut Surau. Sehingga dapat disederhanakan bahwa pe santren merupakan  a place where student live, yaitu sebuah tempat dimana seorang santri atau murid tinggal dan menetap disana dalam rangka belajar.  Hasani Nawawie memberikan yakni lembaga yang berfungsi untuk membentuk para anggotanya agar bertakwa kepada Allah Swt. Sebagaimana didirikannya masjid yang berfungsi untuk membangun ketakwaan bagi setiap individu muslim, maka demikian pula pesantren juga dibangun dengan asas yang inheren dengan tujuan pembimbingan akhlakul karimah.

Dilihat dari posisi kelembagaannya, pesantren bermakna sebagai lembaga pendidikan yang tetap istiqamah melakukan perannya sebagai pusat pendalaman ilmu-ilmu agama dan lembaga dakwah Islamiyah serta ikut mencerdaskan kehidupan masyarakat, dibuktikan dengan keber hasilannya dalam mencetak tokoh-tokoh agama, pejuang bangsa serta tokoh masyarakat, baik di masa pra-kemerdekaan, setelah kemerdekaan maupun di masa kini.

 

Hakikat Karakter

Adalah pendidikan karakter adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk mengembangkan kepribadian berlandaskan kebajikan-kebajikan core virtues) yang secara objektif baik bagi individu maupun masyarakat.

Karakter dapat dilihat dari tingkah laku ketika orang berinteraksi. Secara psikologis kita dapat mengetahui sifatsifat yang demikian nampak dan seolah dapat mewakili kepribadian  seseorang. Sedangkan dalam arti etis, karakter harus mengenai niai-nilai dasar yang baik dan dapat menunjukkan sifatsifat yang positif, dapat dipegang perkataannya, mempunyai pendirian teguh, bersahaja, terpuji dan memiliki integritas yang tinggi. Ketika kita melihat serang berkarakter maka hakikatnya orang tersebut memegang teguh prinsip bahwa setiap perbuatan harus dapat dipertanggungjawabkan oleh dirinya sendiri. Sehingga, kesadaran yang demikian sangat perlu ditanamkan kepada anak didik agar kedepan mereka memiliki pribadi-pribadi tangguh yang memiliki integritas dan tanggungjawab yang tinggi.

Sistem Pendidikan Pesantren

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang penting sebagai acuan untuk menentukan isi pengajaran, mengarahkan proses mekanisme pendidikan, tolok-ukur keberhasilan dan kualitas hasil pendidikan. Kurikulum pesantren lebih menekankan pada pelajaran agama dan bersumber pada kitab-kitab klasik. Kurikulum pesantren berdasarkan tingkat kemudahan dan kompleksitas ilmu atau masalah yang dibahas dalam kitab. Secara umum, sistem pesantren terdiri menjadi 5 elemen yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, yaitu:

  1. Pondok sebagai asrama bagi para santri, berkumpul dan belajar di bawah bimbingan kyai. Kata pondok disusun dengan kata pesantren menjadi pondok pesantren yang merupakan bentuk lembaga pendidikan ke-Islaman yang khas Indonesia.
  2. Masjid merupakan unsur yang sangat penting dalam pesantren, karena di masjid inilah merupakan sentral pelaksanaan pendidikan dibawah asuhan kyai.
  3. Pengajaran kitab klasik atau kitab kuning. Kitab-kitab klasik yang yang diajarkan di pesantren pada umumnya dapat dikelompokkan menjadi delapan yaitu: Nahwu dan sharaf, tauhid,tasawuf dan cabang-cabang yang lain seperti tarikh, balaghah dan sebagainya.
  4. Santri, yaitu para siswa yang mendalami ilmu-ilmu agama di pesantren,baik tinggal di pondok maupun pulang setelah selesai waktu belajar. Dalam bahasa lain ada santri mukim ialah santri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam pondok pesantren, dan santri kalong ialah santri yang berasal dari daerah sekitar pesantren biasanya mereka tidak menetap dalam pesantren.
  5. Kyai atau pengasuh pondok pe santren merupakan elemen yang sangat esensial bagi suatu pesantren. Ratarata pesantren yang berkembang di Jawa dan Madura sosok kyai begitu sangat berpengaruh, karismatik, berwibawa, sehingga amat disegani oleh masyarakat di lingkungan atau sosok yang menjadi tokoh sentral atau tokoh panutan dalam lingkungan pesantren. Selain di anggap pemimpin tertinggi, kyai juga dianggap sebagai sumber belajar oleh para

 

Secara umum, tujuan sistem pendi dikan pesantren adalah membina warga  negara agar berkepribadian mus lim sesuai dengan ajaran-ajaran agama Islam dan mananamkan rasa keagamaan tersebut pada semua segi kehidupannya serta menjadiakannya sebagai orang yang berguna bagi agama, masyarakat dan negara. Sedangkan tujuan khusus suatu sistem pendidikan

  1. Mendidik santri anggota masyarakat untuk menjadi seorang muslim yang

Bertakwa kepada Allah. Berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, keteram pilan dan sehat lahir batin sebagai warga negara yang berpancasila.

  1. Mendidik santri untuk menjadikan manusia muslim selaku kader-kader ulama dan muballigh yang berjiwa ikhlas, tabah, tangguh, wiraswasta dalam mengamalkan sejarah Islam secara utuh dan dinamis.
  2. Mendidik santri untuk memperoleh kepribadian dan mempertebal semanagat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-ma nu sia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan bert anggungj awab kepada pem ba ngunan bangsa dan negara.

Berdasarkan kurikulum atau sistem pendidikan yang dipakai, pesantren mempunyai tiga tipe, yaitu:

  1. Pesantren Tradisional/Salaf. Pesantren ini masih mempertahankan bentuk aslinya dengan mengajar kan kitab yang ditulis oleh ulama abad ke-15 dengan menggunakan bahasa Arab. Pola pengajarannya dengan menerapkan sistem halaqah atau mangaji tudang yang di laksanakan di masjid. Hakikat dari sistem pengajaran halaqah ini adalah penghapalan yang titik akhirnya dari segi metodologi cenderung kepada terciptanya santri yang menerima dan memiliki ilmu. Artinya ilmu tidak berkembang ke arah paripurnanya ilmu itu, melainkan hanya terbatas pada apa yang diberikan kyai. Kurikulum sepenuhnya ditentukan oleh kyai .

 

  1. Pesantren Modern. Pesantren ini merupakan pengembangan tipe pesantren karena orientasi belajarnya cenderung meng adopsi seluruh sistem belajar klasikal dan meninggalkan sistem belajar tradisional. Penerapan sistem belajar modern ini terutama tampak pada penggunaan kelas belajar baik dalam bentuk madrasah maupun sekolah. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum nasional. Kyai sebagai koordinator pelaksana proses pembelajaran dan sebagai pengajar di kelas. Perbedaannya dengan sekolah dan madrasah terletak pada porsi pendidikan agama Islam dan bahasa Arab lebih menonjol sebagai kurikulum lokal.

 

  1. Pesantren Komprehensif. Tipe pesantren ini merupakan sistem pendidikan dan pengajaran gabungan antara tradisional dan modern. Pendidikan diterapkan dengan pengajaran kitab kuning dengan metode sorongan, bandongan dan wetonan yang biasanya diajarkan pada malam hari sesudah salat Magrib dan sesudah salat Subuh. Proses pembelajaran sistem klasikal dilaksanakan pada pagi sampai siang hari seperti di madrasah/masjid.

 

Sedangkan metode atau model dan bentuk pembelajaran yang biasanya digunakan dalam sistem pendidikan

  1. Sorogan. Kata sorogan berasal dari bahasa Jawa yang berarti “sodoranatau disodorkan”. Maksudnya suatu sistem belajar secara individual dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, terjadi interaksi saling mengenal di antara keduanya. Seorang kyai menghadapi santri satu persatu, secara begantian. Pelaksanaanya, santri yang banyak datang bersama, kemudian mereka antri menuggu giliran masing-masing.

 

  1. Metoda ini sering disebut dengan halaqah, di mana dalam pengajian, kitab yang dibaca oleh kyai hanya satu, sedangkan para santrinya membawa kitab yang sama, lalu santri mendengarkan dan menyimak bacaan kyai.

 

  1. Weton. Istilah weton berasal dari bahasa Jawa yang diartikan berkala atau berwaktu. Pengajian weton tidak merupakan pengajian rutin harian, misalnya pada setia selesai shalat Jum’at dan selainnya.

 

Selain yang tiga di atas ada lagi metode-metode yang diterapkan dalam pesantren seperti, musyawarah/bahtsul masa’il. Metode ini merupakan metode pembelajaran yang mirip dengan metode diskusi. Beberapa santri membentuk halaqah yang dipimpin langsung oleh kyai/ustadz untuk mengkaji suatu persoalan yang telah ditentukan sebelumnya. Juga ada metode hafalan (muhafazhah), demonstrasi/pratek (ubudiyah, muhawarah, mudzakarah, majlis ta’lim)

Tantangan Pesantren di Era Globalisasi

Secara historis, pesantren sejak awal berdirinya tidak pernah diam dalam menghadapi problem sosial keagamaan. Aktivitas pesantren dalam merespon persoalan global telah dibuktikan semenjak masa-masa awal kejayaannya. Keterlibatan pesantren dalam dunia global telah dibuktikan oleh fakta sejarah yang tidak mungkin terbantahkan.

 

Pertama, pesantren pernah merespon tantangan global dalam menghadapi kolonialisme bangsa barat yang ketika itu sedang melakukan ekspansi ke negeri-negeri jajahannya, termasuk Indonesia. Lembaga pendidikan pesantren dimasa kolonialisme tetap hidup dan berkembang di atas kekuatan sendiri. Bahkan lembaga ini bagi pemerintah Belanda, bukan saja dipandang tidak bermanfaat bagi tujuan-tujuan kolonial, akan tetapi dipandang sebagai lembaga yang sangat berbahaya dan mengancam upaya kolonialisme. Pandangan bangsa Belanda itu bukan tanpa sebab, karena ketika itu lembaga pesantren merupakan tempat persemaian yang amat subur bagi kader-kader pejuang melawan praktik penjajahan. Atas dasar pandangan tersebut, maka ketika itu pesantren mengalami tekanan yang sangat berat, bahkan dianggap oleh kolonial barat sebagai sarang pemberontak dan ancaman bagi kenyamanan kekuasaan kolonial di bumi Indonesia, khususnya. Hal itu terjadi karena para kyai di pesantren selalu memberikan pengajaran kepada para santrinya untuk mencintai tanah air (hubbul wathan), serta menanamkan sikap patriotic.

 

Kedua, kalangan pesantren yang tergabung dalam komite hijaz yang dipelopori elit ulama pernah memperjuangkan hukum bermadzhab kepada pemerintah Arab Saudi yang menganut faham Wahabi. Komite ini mengusulkan kepada pemerintah Saudi agar memberikan kebebasan kepada praktik bermadzhab dalam menjalankan agama. Komite internasional ini dibentuk di Surabaya, yang dihasilkan melalui forum rapat yang dihadiri ulama pesantren, berbarengan dengan lahirnya keputusan mereka mendirikan lembaga Pendidikan.

 

Dua peristiwa tentang peran ulama pesantren ini mencerminkan bahwa dalam kondisi perubahan apapun, dalam skala lokal, regional maupun global, pesantren telah berusaha untuk mampu menjawab tantangan yang berkembang dan memberikan layanan terbaik bagi masyarakat.

 

Namun demikian, pesantren juga harus tetap perlu waspada terhadap isu-isu global yang membuat beberapa pesantren akhirnya kehilangan kha rismatiknya di tengah masyarakat, lebih parah lagi kasus yang terjadi dibeberapa persantren digenaralisir sehingga berdampak kepada semua pesantren di Indonesia. Misalnya, munculnya berbagai gerakan Islam yang mempunyai karakter yang ekstrim, keras dan kurang toleran dalam menghadapi perbedaan. Hal tersebut pada gilirannya menjadi tantangan dakwah yang harus dihadapi oleh pesantren. Tantangan itu kini muncul kembali dalam bentuk bentuk Islam lain yang sama radikalnya dalam praktik sosio-religius-kultural.

Era globalisasi juga menghadirkan wajah baru dalam interaksi sosial masyarakat modern. Di era ini terjadi kompetisi yang sangat ketat, baik secara individu maupun kelompok. Karena kompetisi tidak hanya terjadi antara kelompok yang sama-sama kuat, tetapi juga antara yang kuat dan yang lemah. Pergerakan informasi yang cepat dan kompetisi yang ketat ini menjadi tantangan tersendiri bagi pesantren. Pesantren sebagai institusi pencetak pemimpin masa depan dan pusat pemberdaya masyarakat harus mampu mencetak generasi yang memiliki sumber daya yang mapan yang dapat bersaing ketat dalam pentas global. Oleh karena itu, pesantren harus dapat menghadapi era globalisasi yang pada awalnya merupakan tantangan dan rintangan menjadi peluang emas bagi pembangunan masyarakat Indonesia. Tentunya, pesantren harus berproses dan berubah sesuai dengan kebutuhan masyarakat global dengan tidak meninggalkan tradisi lama yang masih berlaku.

Selanjutnya, tantangan yang harus diemban oleh pesantren adalah berkaiatan dengan peningkatan mutu pendidikan yang harus menjawab tantangan zaman. Walapun sekarang Indonesia sudah mendapatkan kemerdekaan bukan berarti pesantren lantas bebas dari masalah. Angin segar yang dihembuskan era kemerdekaan atas dunia pendidikan telah menyebabkan lembaga-lembaga pendidikan lainnya bermunculan dengan leluasa. Sekolah-sekolah negeri maupun swasta mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Kehadiran sekolah-sekolah ini menjadikan harga pesantren di hadapan masyarakat mulai turun. Pesantren dianggap tidak lagi mampu menghadapi tantangan pembangunan di abad sains dan teknologi.

Tantangan selanjutnya adalah tantang an ekonomi. Perekonomian masyarakat Indonesiaberada pada tingkat yang sangatrendah, angka ke miskinan makinmeningkat, dan peng hasil an makin jauhdari cukup untuk memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu, penciptaan ke makmuran dirasakan amat mendesak, jika kita tidakmau ketinggal-an oleh negara-negara tetangga dengan segala akibatnya. Halini tidak hanya menuntut peluang kerjabaik disediakan oleh pemerintah maupun swasta, tetapi bekal sumber daya yang memadai.

Membangun masyarakat tidak selalu dengan memberikan apa yang mereka butuhkan tetapi memberikan sesuatu yang dapat mencapai apa yang mereka butuhkan. Dalam hal ini, pesantren dapat berperan maksimaldengan memberikan bekal ilmu dan keterampilan yang cukup. Pesantren juga harus mampu mandiri, biaya sekolah yang tinggi di pesantren yang berkwalitas menyurutkan minat orang tua menyekolahkan anaknya kepesantren dengan dalih eknomi, ditambah lagi pendidikan yang diselenggarakan pemerintah lebih murah bahkan bisa dibilang gratis menjadi pertimbangan tersendiri bagi orang tua untuk        memasukkan anaknya kepesantren.

Lebih lanjut Saifuddin Amir dalam ada beberapa tantangan dan masalah yang dihadapi pesantren disebabkan keterbatasan kemampuan pengelolanya. Sarana dan prasarana penunjang yang terlihat masih ku rang memadai. Selama ini, kehi du pan pondok pesantren yang penuh kesederhanaan dan keber sahaj aan nya tampak masih me mer lu kan tingkat penyadaran dalam me laksa nakan pola hidup yang bersih dan sehat yang didorong oleh penataan dan penyediaan sarana dan prasarana yang layak dan memadai.

  1. Sumber daya manusia. Sekalipun sumber daya manusia dalam bidang keagamaan tidak dapat di ragukan lagi, tetapi dalam rangka meningkatkan eksistensi dan peranan pondok pesantren dalam bidang kehidupan sosial masyarakat, diperlukan perhatian yang serius. Penyediaan dan pening katan sumber daya manusia dalam bidang manajemen kelemba gaan, serta bidang-bidang yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat, harus menjadi prioritas pesantren.
  2. Manajemen kelembagaan. Manajemen merupakan unsur penting dalam pengelolaan pesantren. Pada saat ini masih terlihat bahwa pesan tren dikelola secara tradisional apalagi dalam penguasaan informasi dan teknologi yang masih belum optimal. Hal tersebut dapat dilihat dalam proses pendokumentasian data base) santri dan alumni pesantren yang masih kurang terstruktur.
  3. Kemandirian ekonomi kelembagaan. Kebutuhan keuangan selalu menjadi kendala dalam melakukan aktivitas pesantren, baik yang berkaitan dengan kebutuhan pengembangan pesantren maupun dalam proses aktivitas keseharian pesantren. Tidak sedikit proses pembangunan pesantren berjalan dalam waktu lama yang hanya menunggu sumbangan atau donasi dari pihak luar, bahkan harus melakukan penggalangan dana di pinggir jalan.
  4. Kurikulum yang berorientasi life skills santri dan masyarakat. Pesantren masih berkonsentrasi pada peningkatan wawasan dan pengalaman keagamaan santri dan masyarakat. Apabila melihat tantangan kedepan yang semakin berat, peningkatan kapasitas santri dan masyarakat tidak hanya cukup dalam bidang keagamaan semata, tetapi harus ditunjang oleh kemampuan yang bersifat keahlian.

Prospek Pesantren

Pemerintah memiliki perhatian melalui Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 yang diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Dalam peraturan pemerintah tersebut dijelaskan eksistensi pesantren dalam pasal 26, sebagai berikut:

  1. Pesantren menyelenggarakan pendidikan dengan tujuan menanamkan keimanan danketakwaan kepada Allah SWT, akhlak mulia, serta tradisi pesantren untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan, dan ke terampilan peserta didik untuk menjadi ahli ilmu agama Islam dan/atau menjadi muslim yangmemiliki kete rampilan/keahlian untuk memba ngun kehidupan yang Islami dimasyarakat.
  2. Pesantren menyelenggarakan pendidikan diniyah atau secara terpadu dengan jenispendidikan lainnya pada jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, menengah, dan/atau pendidikan tinggi.
  3. Peserta didik dan/atau pendidik di pesantren yang diakui keahliannya di bidang ilmu agama tetapi tidak memiliki ijazah pendidikan formal dapat menjadi pendidik mata pelajaran/kuliah pendidikan agama di semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan yang memerlukan, setelah menempuh uji kompetensi sesuai ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

 

Jika kita perhatikan, pesantren sangat mendapatkan perhatian khusus dan diakui secara yuridis oleh pemerintah. Hal ini memberikan pen gaku an terhadap alumni pesantren untuk menjadi pendidik dalam mengajarkan ilmu agama pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan setelah mendapat pengakuan melalui uji kompetensi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dibuktikan dengan ijazah/ Syahadah.

 

Peran Pesantren dalam Pendidikan Karakter

Sudah seharusnya bila pesantren melaksanakan sistem pendidikan yang sangat memperhatikan masalah ka rakter,bahkan bisa dikatakan dalam dunia pesantren akhlak menjadi nomor satu dan yang paling penting dari segalanya. Keberhasilan seorang kyai adalah ketika santri-santrinya memiliki akhlakyang baik, sehingga dapat menjadi uswah atau contoh bagi masyarakat sekitarnya. Pesantren adalah salah satu lembaga yang menjadi pusat pengembangan ilmu agama. Berbagai teori keilmuan dari berbagai disiplin ilmu yang dikaji di pesantren menjadi acuan untuk dipraktekkan. Kecenderungan untuk mempraktekkan nilai-nilai teoritis yang diperoleh santri dari kajian-kajiannya adalah sebuah sebuah keniscayaan karena dalam konteks keislaman ilmu dikatakan bermanfaat kalau diamalkan. Nilai amaliah inilah yang membedakan diri seseorang dari entitas-entitas lainnya yang menempatkannya pada posisi sebagai khalifah di muka bumi. Dan hasil terbesar yang akan diperoleh adalah pengetahuan tentang Tuhan yang terimplementasikan dalam nilai praktisnya. Nilai praktek inilah yang mempengaruhi pembentukan karakter pada santri yang menempatkan dirinya sebagai hamba Allah.

 

Keberhasilan pesantren dalam membentuk karakter mengundang banyak lembaga lainya untuk meniru desain pesantren. Buktinya, banyak lembaga-lembaga yang meniru formulasi pesantren dengan mendirikan pendidikan berasrama. Mereka meyakini bahwa konsep pendidikan berasrama seperti pesantren benar-benar mampu membentuk karakter anak didiknya. Karena karakter yang tertanam dalam diri santri sebagai buah aplikasi nilai teori, bukan sekadar keterampilan atau kemampuan instingnya, tetapi kemampuan untuk mempertahankan nilai-nilai kesantriannya berdasarkan ontologis pesantren.

 

Pesantren diharapkan mampu menyiapkan SDM kreatif, berkarakter, dan memiliki keunggulan kompetitif yang kemudian mampu memainkan perannya baik sebagai strategic partner, administrative expert, employee champion, maupun change agent. Salah satu upaya strategisnya adalah melalui penyelenggaraan Pendidikan inovatif oleh guru-guru kreatif. Untuk menyiapkan lulusan dalam menghadapi tantangan disrupsi (Asep Kusnadi: 2020), maka pola Pendidikan pesantren harus direkonstruksi sebagai upaya menjembatani kesenjangan dan membekali mereka dengan keterampilan teknologi untuk meningkatkan inovasi, sistem dan metode pembelajaran di kelas. Pendidikan pesantren harus berorientasi pada proses untuk menghasilkan lulusannya yang tidak hanya fasih dalam hal tafaquh fiddien saja, melainkan juga memiliki beberapa skill yang diperlukan dalam era disrupsi ini, di antaranya adalah:

  1. Conceptual skill. Upaya penyelenggaraan pendidikan harus berorientasi agar para santri memiliki kemampuan konseptual. Bagaimana membuat perencanaan, men-scanning berbagai masalah internal maupun eksternal untuk menentukan langkah strategis dalam pengambilan keputusan. Kemampuan ini akan mengantarkan santri dalam membuat sebuah keputusan strategis dan menciptakan solusi alternatif atas sesuatu yang sedang di hadapi.
  2. Bisnis skill. Pendidikan di pesantren harus diupayakan kepada santri agar memiliki jiwa kewirausahaan. Berbagai hal dapat dilakukan oleh pesantren untuk membekali santri agar memiliki jiwa usaha. Dengan kemampuan ini para santri akan mampu melayani kebutuhan masyarakat khususnya ketika mereka bekerja sebagai wirausaha dan akan mampu melihat peluang-peluang serta tantangan pasar.
  3. Organizational skill. Organizational skill merupakan proses pendidikan yang menekankan pada kemampuan berorganisasi. Santri dilatih agar ia memiliki jiwa organisasi. Hal ini akan mengantarkan santri untuk memperlihatkan kemampuannya dalam mengeksekusi perencanaan. Setidaknya terdapat empat poin dalam keahlian berorganisasi, yaitu execution focus, (organizational awareness), concern for order, dan adaptability. Oleh karena itu, pembelajaran di kelas tidak harus selalu serius, akan tetapi nilai pendidikannya tersampaikan. Pendidikan bisa didesain sedemikian rupa agar terjadi inovasi pembelajaran melalui game based learning.
  4. Leadership skill. Proses pembelajaran di pesantren harus berorientasi pada pembentukan jiwa leadership. Santri harus memiliki kemampuan leadership sehingga ia mampu menjaga hubungan kerja yang baik, memiliki empowerment management, soft skill, dan lainnya.

 

Keempat hal tersebut sebaiknya menjadi perhatian serius bagi pesantren selaku penyelenggara pendidikan yang bertugas menyiapkan anak bangsa agar ia tidak gagap menghadapi kehidupannya di masa yang akan datang dengan tetap menjaga dan mempertahankan orisinalitas pesantren sebagai lembaga pencetak kader ulama (ulama yang intelek dan intelek yang ulama).

 

Kesimpulan

Secara sosiologis, menurut Thomas, lembaga-lembaga keagamaan seperti pesantren, yaitu: peran sebagai directive system dan defensive system. Dalam peran, agama ditempatkan sebagai referensi utama dalam proses perubahan. Dengan demikian, agama akan dapat berfungsi sebagai supremasi moralitas yang memberikan landasan dan kekuatan etik-spiritual masyarakat ketika mereka berdialektika dalam proses perubahan.Agama menjadi semacam kekuatan kehidupan yang semakin kompleks di tengah derasnya arus perubahan. Masyarakat yang berpegang pada nilai-nilai religius akan mempunyai kemampuan untuk mempertahankan diri dan tidak ada rasa kekhawatiran serta keragu-raguan dalam menghadapi tantangan kehidupan.

 

Dari analisis tersebut bisa dipahami bahwa pesantren tetap menjadi primadona masyarakat dalam membendung derasnya arus globalisasi dan budaya budaya barat yang menggurita. Sehingga prospek pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam kedepan masih tetap cerah dan dibutuhkan. Pesantren telah menerapkan pendidikan karakter dan secara konsisten mampu membentengi setiap pribadi santri terhadap derasnya budaya Barat yang masuk ke Indonesia. Selain itu, pesantren juga menerapkan pengawasan yang ketat menyangkut tata norma, baik peribadatan maupun norma sosial.

 

Selanjutnya, kiprah pesantren di tengah-tengah masyarakat dapat terwujud melalui peran-peran strategis pesantren. Peran strategis tersebut tercermin dalam fungsi pesantren seperti berikut: Pertama: Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang bertujuan untuk mentransfer dan mengembangkan ilmu-ilmu agama. Kedua: Pesantren sebagai lembaga pengk ade ran yang telah berhasil mencetak kader umat dan kader bangsa. Ketiga:Pesantren sebagai lembaga sosial yang berkomunitas dengan lingkungan sosial di lingkungannya, mengajarkan bagaimana hakikat kehidupan. Keempat: Pesantren sebagai agen reformasi sosial yang menciptakan perubahan dan perbaikan dalam kehidupan masyarakat.

 

Sumber Bacaan :

Amin, Haedari, Masa Depan Pesantren dalam       Tantangan      Modernitas dan          Tantangan      Kompleksitas  Global,Jakarta: IRD Press, 2004.

  1. Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter,Jakarta: Bumi Aksara, 2011.

Fauzan, Peran Pesantren dalam Mengembangkan Pendidikan Karakter. Al Furqoniah: Vol. 1 No. 1 Agustus 2015.

Fatah Syukur, Dinamika Pesantren dan Madrasah,Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002. Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Persada, 1996.

Marwan Saridjo, Sejarah Pondok Pesantren di       Indonesia,       Jakarta:           Dharma Bhakti, 1982.

Masjkur, Integrasi Sekolah ke Dalam Sistem Pendidikan Pesantren, Surabaya: Diantama. 2007

  1. Bahri Ghazali, Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan: Kasus Pondok Pesantren An-Nuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura, Jakarta: Pedoman Ilmu. 2001.
  2. Idris Usman, Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan Islam,2013.

Ratna Megawangi, Pendidikan Karakter Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa,Bogor: Indonesia Heritage Foundation, 2007.

Samsurrohman, M.Si., Pesantren Dan Tantangan Arus Global, Dakwah Pesantren Di Era Globalisasi, Jurnal

Sumarsono Mestoko, Pendidikan di Indonesia, dari Zaman ke Zaman, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, 1979.

Tim Penulis Pustaka          Sidogiri, Mengapa Saya Harus Mondok di Pesantren,Pasuruan: Pustaka

Sidogiri, 2008.

Thomas O’Dea, Sosiology of Religion (Terjemahan), Jakarta: Rajawali, 1987.

Zarkasyi, Abdullah Syukri, Gontor dan Pembaharuan pendidikan Pesantren,Jakarta: PT Raja Grapindo Persada, 2005.

http://www.kompasiana.com http://www.hidayatullah.com

 

[1] Makalah disampaikan dalam acara In House Training (IHT) 28 Agustus Tahun 2020 di Pondok Pesantren Terpadu Al-Musthafawiyah Bogor. Penulis saat ini sebagai  Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Musthafawiyah Megamendung Bogor, dan juga aktivis kemanusiaan di Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan Propinsi DKI Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *